Postingan

Takbir yang Sama pada Situasi yang Berbeda

Gambar
Rabu, 27 Mei 2026 Allahuakbar.. Allahuakbar... Allahuakbar...  Laa illa ha ilallah wallahu akbar.. Allahuakbar walillahilham...  Pagi ini, aku bangun diiringi dengan suara takbir menggema dari pengeras suara masjid. Bahkan sejak semalam tanda kemenangan itu sudah turut mengantarku untuk tidur dengan nyenyaknya.. Hari ini tepat di hari rabu yang cerah, matahari pun turut menyambut pagi dengan pertunjukkan sunrise nya yang mempesona. Kami berjalan ke masjid seperti layaknya idul adha biasanya.. gema takbir berderu dari seluruh penjuru masjid.. MashaAllah Tabarakallah nikmat syukur mana yang tak henti aku lantunkan dalam hati.  Namun, dibalik itu semua.. ingatanku terbang menuju 20 tahun yang lalu. Tepat di hari Sabtu, 27 Mei 2006 yang seingatku dan berdasarkan data di berita jam menunjukkan pukul 6.00 pagi. Tepat di pagi yang sama, Aku yang kala itu berusia 5 tahun bersama dengan Ayah, Ibu, dan Kakak sedang bersiap menuju ke rumah eyang di Sukoharjo. Kami sudah rapi, barang...

The Last: was it hard? yes of course

 Hari Selasa, 9 Desember 2020 siapa menyangka bahwa itu hari terakhir disetirin ayah. Pagi hari yang cerah ayah membangunkanku untuk membeli sarapan bubur hangat kesukaannya. Aku bangun dengan langkah malas ketika itu yang aku sesali kenapa aku malas melakukannya andai aku tahu itu saat terakhir pasti akan kumanfaatkan waktu sebaik mungkin dengannya. Lokasi penjual bubur hangat tidak terlalu jauh dari rumah, biasanya kami naik motor tapi entah kenapa ayah meminta untuk pakai mobil saja. Mobil Grand Livina milik ibu, dengan inisial nomor polisi AJ untuk (Ayah Joko). Kegiatan itu berjalan seperti biasa, membeli bubur sesuai dengan request nya: pakai sayur kerecek dan telur bulat. Hari-hari setelahnya juga berjalan seperti biasa, bahkan tanggal 10 Desember yang bertepatan dengan pemilihan kepala daerah dan Ayah masih bisa pergi ke TPS dan berjalan-jalan dengan motor kesayanganku yang kuberinama Valerie yang juga pemberiannya.  Ayah, andai aku tahu itu saat terakhir bersama Ayah, ...

Berpriviladge? Dilarang Speak Up.

Terlahir dengan priviladge dan jadi anak yang  provider kadang bikin aku sadar: aku juga punya keterbatasan—yang sebenernya, kalau dipikir-pikir, nggak perlu juga terlalu dipusingin. Tumbuh dan besar dalam stigma “kamu kan berkecukupan dan berpriviladge” bikin orang-orang mikir aku bisa dapetin apa aja yang aku mau. Salah? Ya enggak juga. Aku bersyukur, banget malah. Alhamdulillah. Tapi aku juga ngerti, manusia tuh emang suka susah nerima kalau orang lain punya sesuatu yang nggak mereka punya. Dari kecil aku udah dibiasain hidup teratur, khususnya soal akademik dan agama. Jadwal padat merayap—les sana-sini, ekstrakurikuler full sejak TK. Kalau dihitung-hitung, aku literally nggak pernah stop sekolah dari umur 3 tahun (playgroup) sampai sekarang umur 24. Semua itu bentuk tanggung jawab orang tuaku buat nyediain fasilitas terbaik. Dan aku yakin, hampir semua orang tua juga pasti pengen ngelakuin hal yang sama buat anak-anaknya. Dulu aku pikir semua itu hal biasa. Tapi ternyata, kata ...

Akan dikenang Sebagai Apa?

Aku mungkin tak akan lama, berada pada bumi yang menjanjikan mimpi indah. Perjanjianku dengan Allah, sebelum akhirnya aku menghirup oksigen dan memulai perjalanan. Tidak selamanya, karena perlahan aku akan sendiri berjuang.  Lantas... kepergianku nanti akan dikenang sebagai apa?  Seperti apa aku akan dikenang oleh orangtuaku?  Seperti apa aku akan dikenang oleh kakak ku?  Seperti apa aku akan dikenang oleh sahabat dan teman-temanku?  Ibu, gambaran kuat Dewi Suhita melekat pada dirimu. Kuat dan Bijak. Aku berharap, pada semua perjalanan akan membawamu pada keselamatan.  Ayah, kepergianmu cukup memporak porandakan duniaku. Separuh hidupku bagai luruh pada aliran air yang bermuara pada lautan, ini arahnya kemana Ayah?  Kakak, kau akan lama disini. Langkahmu akan panjang dan pengabdianmu akan bermanfaat bagi sekeliling.  Kepada sahabatku, kau tau siapa yang aku maksudkan. Tanpaku, kau akan tetap baik-baik saja. Kau akan tetap berjalan walau tanpaku ya...

Perjalanan

Perjalanan panjang yang akan membawa langkah kaki untuk terus berpindah. Gadis kecil dengan segudang mimpi nya kembali menggeliat dan melangkahkan badannya. Janjinya pada sang Ayah, untuk menimba ilmu sampai tidak ada lagi tingkatan di atasnya. Namun, pada dasarnya dia akan terus belajar sampai waktunya habis.  Iqra, bacalah, begitulah perintahnya. Satu ayat yang menentukan mimpi dalam dirinya yang menerjang badai dalam diam. Terkadang ia tak sekuat itu, menangis, mengeluh, jatuh, limbung, dan hampir putus asa sudah menjadi bagian sehari-harinya. Dia juga masih sering merindukan Ayahnya, seseorang yang selalu ia anggap mampu menghalau gelisah dalam hatinya. Dua tahap sudah berhasil ia lewati, dan gadis kecil itu akan terus berjalan, ia akan terbang diatas badai orang-orang yang meremehkannya.  Hati-hati di jalan, semoga dalam diam mu akan menepis hujan pada pipi merahmu. 

In my silent.

 Hari itu aku tak tau apa yang terjadi sebelumnya. Aku pergi ke tempat yang biasa kudatangi setiap harinya, bertemu dengan orang yang biasa kutemui tanpa kutemukan prasangka apapun sebelumnya. Hingga tengah hari, aku menerima tuduhan yang aku tak pernah tau darimana datangnya. Aku diam, walaupun dalam hatiku muncul 1001 pertanyaan. Aku tak menyalahkan siapapun, namun pertanyaan itu terus berputar dalam-dalam pada kepalaku.  Ketika kucoba konfirmasi, tak kutemukan jawaban, justru tuduhan lainnya yang tak kusangka datang dari orang yang lagi² tak kusangka akan mengatakannya padaku.  Aku diberi pertanyaan seolah duduk pada kursi pesakitan, diminta untuk mengakui dan memgklarifikasi pada seseorang bahwa aku mengatakan hal itu. Padahal tidak, aku tak pernah mengatakannya.  Kata maaf sudah kuutarakan berkali-kali padanya walau aku tak tau apakah sepenuhnya salahku? Aku pun cukup terluka mendengar semua hal ini. Salahkah aku yang menyembuhkan diri dengan caraku?  Aku m...

Brangkas Rahasia

Bahwa kebahagiaan merupakan tanggungjawab masing-masing pribadi terhadap dirinya sendiri. Menceritakan apa yang kita rasakan bisa jadi bukan merupakan cara untuk menyelesaikan masalah, justru malah membuat luka nya semakin dalam. Banyak hal dalam hidup yang aku tak mampu ungkapkan pada siapapun, pernah ketika itu aku mengungkapkannya tapi yang terjadi ternyata malah memperkeruh perasaanku sendiri. Aku memaknai diri dan perasaanku sebagai brangkas rahasia, yang aku tak mau mengungkapkannya pada siapapun. Jika memang perbuatan orang lain menyakiti hatiku, biarlah itu menjadi urusanku, dan pilihanku untuk membuat hatiku sakit ataupun tidak. Namun, ketika perbuatanku menyakiti oranglain, aku hanya bisa meminta maaf atas apa yang terjadi baik di dalam maupun di luar kendaliku.  Beberapa kali aku menyalahkan diriku sendiri, entah pada apa yang terjadi ataupun apa yang telah terjadi. Tidak paham dan menjadi paham bahwa terkadang maksud baik tak selalu berujung dengan baik. Aku mencoba bel...

Tidak Semua Harus digenggam

Banyaknya perjalanan dan kisah hidup membawaku pada sebuah kata yaitu: mengikhlaskan. Terkadang aku lupa bahwa apa yang kuusahakan akan berakhir pada tiga pilihan: tercapai, tertunda, atau diikhlaskan. Beberapa waktu lalu yaitu tanggal 5 - 16 Januari 2024 aku berkesempatan untuk melaksanakan ibadah umroh bersama ibu dan kakakku. Selama kurang lebih 12 hari perjalanan rohani tersebut aku makin menyadari bahwa pada dasarnya diri kita ini tidak ada apa-apanya. Berdoa pada tempat-tempat mustajab tentu saja merupakan salah satu kesempatan yang tidak akan ku sia-siakan. Namun, baru kusadari bahwa makna dari kata doa adalah mengikhlaskan, salah satu tempat yang paling mustajab adalah pada bagian antara hajar aswad dengan multazam aku pun mencoba untuk berdoa disana dan menyampaikan semua hajat dan harapanku. Tapi apa yang terjadi? justru hanya kata memohon ampun kepada Allah yang terus menerus kuucapkan tanpa henti. Bahkan ketika aku bisa mencapai ka'bah hampir seluruh hajat duniawiku lup...

Tak Akan Aku Biarkan Ia Menjadi Lilin Itu.

Menjadi dewasa merupakan kodrat semua manusia yang masih diberikan kesempatan untuk tetap hidup. Sebuah proses yang aku alami dalam rentang waktu akhir-akhir ini membuatku sadar bahwa menjadi dewasa begitu menyenangkan. Aku mensyukuri semua hal dalam diri, berusaha untuk tetap ikhlas dengan semua lika-liku yang membersamai. Banyak hal kutemui dan kurasakan, situasi yang aku rasa "aneh" tidak hanya terjadi pada jiwa saja namun juga pada raga. Orang menyebutnya psikosomatis, tapi apalah itu namanya aku merasa bahwa jiwa dan raga ku terkoneksi.  Menurut Marcus Aurellius, yang aku baca di buku Filosofi Teras mengatakan bahwa jiwa sama dengan raga jika tidak dipelihara juga dapat terluka. Aku menghargai akan sebuah proses termasuk ketika raga ataupun jiwa ku sedang tak baik-baik saja, ya mungkin ia terluka. Dari banyak proses yang kulalui, aku mengamati bahwa karakter manusia beraneka ragam dan dalam satu hari kita dapat menemukan karakter-karakter baru yang unik dan belum pernah ...

POEM : Kau ingin apa?

Gambar
Kau ingin apa? Hari-hari melelahkan yang kau jalani. Tertekan oleh banyak ekspektasi khalayak. Atau ambisi yang bergejolak. Sudah, sudah terpenuhi beberapa. Lantas kau ingin apa? Mencari pembenaran pada hati? Atau mengheningkan diri? Kau tau kemana akan pergi. Langkah yang tajam dan tak bernurani. Namanya hidup, jalan mana yang akan di lewati. Sekali lagi kutanyakan padamu, Kau ingin apa? Sudah terlalu jauh melangkah, apakah kau tega untuk menyerah? -AR-   

Validasi Luka dan Kecewa

Gambar
Dunia diciptakan dengan seimbang oleh Allah, ketika panas diseimbangkan oleh dingin, siang berpasangan dengan malam, dan kencang berdampingan dengan lambat. Begitu juga dengan kebahagiaan, sebagai manusia pada umumnya aku menyukai kebahagiaan, aku menikmati setiap langkah dan proses hidupku sambil mencari arti "bahagia". Setiap kebahagiaan yang datang pada diriku, aku selalu menyambutnya dengan riang, menikmatinya, dan tentu saja memvalidasi keberadaanya. Namun, terkadang aku lupa bahwa bahagia diseimbangkan oleh sedih, luka, dan kecewa. Luka yang hadir tentu akan meninggalkan rasa kecewa dan berakibat pada kesedihan. Banyak orang menghindar dari luka, tidak terkecuali aku. Tapi, bisakah selamanya bersikap seperti itu? Terkadang sudah dihindari pun tetap tergores. Awalnya, aku memendam luka-luka itu dan berharap mereka akan sembuh dengan sendirinya, namun nyatanya aku berlaku bodoh, luka itu tidak sembuh bahkan kadang terasa semakin parah. Lama-lama aku menyadari bahwa, hanya...

KOMPARATIF

Seringkali aku mendapatkan pertanyaan yang mungkin aku sendiri juga tidak tahu jawabannya. Pertanyaan retorik yang dilontarkan oleh seseorang hanya ((mungkin)) karena kehabisan bahan pembicaraan saja. Sejak kecil aku sudah sering mendapati pertanyaan "Kok kamu ga mirip sih sama Kakakmu? Kenapa kamu ga secantik kakakmu?" atau ketika  aku kuliah aku mendapati pertanyaan "Kamu ambil bidang yang sama dengan ibumu tapi kenapa kamu ga se pintar ibumu?". Pada awal aku mendapatkan pertanyaan itu, aku pun ikut bertanya-tanya "Iya juga kenapa aku ga mirip sama kakak ku ya?". Pertanyaan komparatif yang dilayangkan kepada anak kecil yang kebingungan. Sampai pada akhirnya aku memang selalu menjawab bahwa kakaku lebih baik dari aku, lebih cantik, dan lain sebagainya.  Komparatif atau perbandingan yang dilontarkan oleh manusia untuk membandingkan antar manusia satu dengan lainnya yang sebenarnya hanya membuang waktu dengan percuma. Adakah seseorang yang bisa request kepa...

POEM : Tinta Biru

Gambar
Aku hanya ingin kemudahan agar aku bisa melupakannya Kapalku tak pernah berlabuh, layarnya koyak terhempas angin laut, hingga akhirnya dia karam pada samudra yang dalam Rembulanku menangis, Mengiringi denting hatiku pada kisah rindu Pada langit yang kelabu Aku ikhlaskan dia untuk dimiliki hati yang lain Ujung penantianku berada pada titik temu Nyatanya hatiku dan dia tak pernah berkalibrasi menjadi satu  Kesalahanku yang larut pada imajinasi kalbu  Pada akhirnya aku yang menuai tinta biru

Selamat Ulang Tahun, Ibu

Gambar
                Anggapan bahwa nama merupakan sebuah doa yang diharapkan akan menyertai pemiliknya. Bagiku, anggapan itu benar adanya, Nur yang berartikan cahaya. Nama yang diberikan 54 tahun lalu oleh Kakung dan Uti untukmu, ternyata semesta dan Allah telah merestui itu. Menjadi cahaya untuk memandu dan menerangi kegelapan disekitarmu.              Aku akan menceritakan sepenggal cerita antara diriku dan dirimu. Nur Widiastuti, ia adalah Ibuku beliau kebetulan seorang dosen dengan bidang keilmuan yang sama dengan yang kugeluti. Misi utama ibuku sejauh yang kuketahui adalah : belajar, berbagi, dan berguna. Sejak kecil aku sering mengikuti ibu mengajar dan berbagai kegiatan akademik lainnya bahkan tak jarang ibu melibatkanku pada hal-hal sederhana dalam pekerjaannya. Banyak anggapan bahwa menjadi anak dosen banyak enaknya, ya! tentu saja aku mengamini itu. Walau terkadang juga banyak anggapan terkhu...

POEM : Aku yang Harus Pergi

Gambar
  Diri ini pernah patah.  Merasa ingin musnah.  Sebelumnya memang tak pernah.  Tapi perasaannya semakin gundah.  Merelakan seseorang pergi.  Dengan masih ada rasa di hati.  Sakit, kau tak akan mengerti.  Berat, karena dia tak lagi disini.  Ber-dialog tiada arti.  Telepati pun tak sanggup lagi.  Mereka pikir aku baik-baik saja.  Padahal, aku remuk redam tak berdaya.  Dia pikir aku yang menyakitinya.  Padahal, sakitku ini sudah kupendam lamanya.  Perasaan wanita siapa yang bisa membaca?  Mungkin, kau hanya melihat tangisnya.  Tak pernah kau rasakan hancurnya.  Logikamu melaju secepat kilat.  Tapi hatimu tak pernah kau gunakan walau sesaat.  Terimakasih sudah mengajari.  Bahwa berkorban memang harus memiliki arti.  Karena saling mengerti tak cukup lagi.  Hingga akhirnya memang aku yang harus pergi.  Jogja dini hari, 10 Juni 2020  Ainina Sugiyanto

Selamat Ulang Tahun, Ainina!

Gambar
  11 Januari 2001  Pukul 13.40  Telah lahir seorang bayi perempuan. Ia lahir tanpa tangisan yang membuat orang di sekelilingnya gempar. Kelahirannya yang tanpa tangisan menjadi awal pertanda bahwa dia akan menjadi perempuan yang kuat dan tangguh. Malam dihari yang sama ternyata bulan sedang indah, cantiknya  purnama seperti turut berbahagia menyambut kehadirannya. Dibesarkan oleh kasih sayang dari sekelilingnya. Lewat binar matanya dia mengenali dunia. Hari demi hari dirinya mulai terbentuk. Kakinya terus melangkah dan langkahnya akan semakin panjang. Tubuhnya kuat, badai dan angin mampu ia terjang. Kehadiran dan kehilangan lewat begitu saja di hadapannya. Ia terus melangkah dan berusaha menguatkan sekitarnya padahal tidak jarang dia sendiri sedang rapuh. Bayi perempuan yang lahir 21 tahun lalu telah menjelma menjadi perempuan yang mandiri. Ia masih terus mencari dan melangkah. Selamat Ulang Tahun, Terus berjuang wahai puan walau terkadang semesta tidak baik-baik saj...

Nasi Goreng Buatan Ayah

          Dulu, ada satu menu favorit di keluarga kami yaitu nasi goreng ayah. Ayah sangat pandai mengolah sesuatu dan pasti hasil karyanya bukan sekedar hasil karya biasa. Nasi goreng buatan ayah sebenarnya hanya nasi goreng jawa seperti pada umumnya. Tapi ntah kenapa rasanya selalu serba pas tidak terlalu pedas dan tidak terlalu asin. Ada cerita unik tentang nasi goreng buatan Ayah. Sekitar tahun 2005 ada lomba masak nasi goreng di perumahan tempat tinggal kami. Awalnya, Ayah tidak berniat ikut tapi ntah kenapa tetangga-tetangga justru pada mendukung Ayah untuk ikut lomba itu. Bahkan para tetangga membantu mempersiapkan alat dan bahan karena Ayah sama sekali tanpa persiapan. Ternyata Ayah keluar sebagai juara 2 lomba masak nasi goreng dalam rangka peringatan 17 tahun kemerdekaan.           Sekarang, setelah Ayah pergi ke tempat yang lebih indah aku jadi tidak bisa merasakan nikmatnya nasi goreng buatan Ayah. Pernah beberapa k...

POEM : Dia Hadir di Kala Senja

Gambar
Aku tidak menyukai senja Sudah berulang kali kukatakan Keindahannya hanya sementara lalu berganti dengan gulita Benar ada cahaya bulan yang akan tiba Tapi dia remang tak seperti surya Aku pernah merasakan bahagia  Kebahagiaan mengagumi seseorang dalam diam Namun sayang, kebahagiaan itu muncul di kala senja Perlahan hilang tertutup gelapnya malam Seperti jatuh tertimpa tangga Bulan kala itu juga enggan menyapa

Pada Sebuah Perjalanan

 Hai. Apa kabar? Aku berdoa semoga kalian semua dalam keadaan baik dan sehat (:  Jujur aku bingung bagaimana aku harus memberi intro pada tulisanku kali ini. Mungkin aku akan menuliskannya sesuai dengan bagaimana pikiranku akan berjalan. Jadi, cerita ini berawal dari moment ketika aku pertama kali pulang ke Jogja (dari Solo) sendirian. Perjalanan Jogja-Solo sangat tidak asing bagiku dan mungkin aku sudah mengalaminya ratusan kali karena kebetulan keluarga besarku menetap di Solo lebih tepatnya di Sukoharjo. Sesuatu yang berbeda kali ini adalah, aku pergi seorang diri.  Pada saat itu ada suatu acara mendesakku untuk segera pulang ke Jogja pada pagi hari yang padahal menurut rencana aku dan keluarga ku akan pulang pada sore harinya karena, masih ada beberapa urusan yang harus diselesaikan. Tapi aku bersikeras memaksa untuk pulang pada pagi hari. Ayah mengantarku ke stasiun waktu itu kalau tidak salah umurku 17 tahun dan masih awam ilmu tentang moda transportasi umum. Sesamp...

Trade Off Dalam Kehidupan

Hai Assalamualaikum, Wow it's been almost 4 months aku ga nulis blog hehe udah sampai usang dan berdebu gara-gara ga pernah di isi lagi. But anyway, mumpung ada mood buat nulis jadi kuputuskan untuk menulis sesuatu. Topik nya ringan sih dan mostly tulisan-tulisanku itu adalah hasil aku ngobrol ataupun diskusi dengan oranglain tapi banyak juga sih yang emang dari pemikiranku aja wkwk. Well, selamat membaca 😊 Topik ini judulnya trade off dalam kehidupan. Jadi gini dulu waktu pertama kali kuliah alias masih jadi maba (almost 2 tahun lalu) aku dapat materi kuliah tentang 10 principle of economy kalau ga salah sih itu di matkul Pengantar Ekonomi Mikro dan Pengantar Ekonomi Makro. Salah satu point dari 10 principle of economy itu adalah trade off. Aku gatau sih apa aku yang telat belajar materi 10 principle of economy atau gimana yang jelas aku baru nyadar disitu sebenarnya ada aspek-aspek yang bukan hanya tentang ekonomi tapi tentang life yap betul tentang kehidupan (:  Kalau menurut p...