Takbir yang Sama pada Situasi yang Berbeda
Rabu, 27 Mei 2026
Allahuakbar.. Allahuakbar... Allahuakbar...
Laa illa ha ilallah wallahu akbar.. Allahuakbar walillahilham...
Pagi ini, aku bangun diiringi dengan suara takbir menggema dari pengeras suara masjid. Bahkan sejak semalam tanda kemenangan itu sudah turut mengantarku untuk tidur dengan nyenyaknya.. Hari ini tepat di hari rabu yang cerah, matahari pun turut menyambut pagi dengan pertunjukkan sunrise nya yang mempesona. Kami berjalan ke masjid seperti layaknya idul adha biasanya.. gema takbir berderu dari seluruh penjuru masjid.. MashaAllah Tabarakallah nikmat syukur mana yang tak henti aku lantunkan dalam hati.
Namun, dibalik itu semua.. ingatanku terbang menuju 20 tahun yang lalu. Tepat di hari Sabtu, 27 Mei 2006 yang seingatku dan berdasarkan data di berita jam menunjukkan pukul 6.00 pagi. Tepat di pagi yang sama, Aku yang kala itu berusia 5 tahun bersama dengan Ayah, Ibu, dan Kakak sedang bersiap menuju ke rumah eyang di Sukoharjo. Kami sudah rapi, barang sudah dimasukkan dalam mobil, karena pada awalnya kami hendak bertolak ke Sukoharjo pada Hari Jumat sebelumnya, namun Qadarullah Ayah selesai urusan di proyek terlalu malam, hingga kami putuskan untuk bertolak di keesokan harinya. Tak ada firasat apapun dariku kala itu, atau mungkin aku belum cukup mengerti mengenai kata "firasat".
Semua berjalan sesuai rencana, mobil Suzuki Zebra berwarna biru tua milik Ayah sudah dipanaskan di depan rumah, Ayah sedang mengunci pintu rumah dan memastikan semua aliran listrik dan gas aman sebelum kami tinggal ke Sukoharjo, sedangkan kami bertiga (Aku, Ibu, dan Kakak) sudah siap di depan mobil menunggu Ayah. Tiba-Tiba.. "ALLAHUAKBAR" Ibu berteriak dengan nada yang panik dan memanggilku dan Kakak yang sedang bermain berlarian di depan mobil untuk segera mendekat padanya. Aku tak paham apa yang baru saja terjadi namun aku merasakan bahwa tanah bergerak seperti hendak amblas. Sejenak kemudian wajah Ibu memucat panik seraya merengkuh kami berdua dalam pelukannya sambil mulutnya komat-kamit berdzikir. Kakak bertanya dengan panik "Gempa ya Bu?" barulah Nina yang berusia 5 tahun itu mengetahui "ohh itu tadi, namanya gempa".
Kurang dari 1 menit kemudian tiba-tiba bumi berguncang dengan kerasnya, Aku melihat ujung pohon mangga milik Pakde Basiran (tetangga depan rumahku) miring hingga mencapai tanah. Jalan depan rumah, seperti gelombang karpet yang dikibaskan. Ayah berteriak dengan kencang ALLAHUAKBAR ALLAHUAKBAR ALLAHUAKBAR.....
Ayah memerintahkan kami untuk tiarap, berjongkok di depan rumah, dan kami ber 4 berpelukan. Aku tidak tahu bagaimana caranya Ayah yang awalnya di depan pintu rumah bisa tiba-tiba berada di depan pagar untuk memeluk kami bertiga, dan baru ku tahu ketika gempa usai ternyata beliau susah payah merangkak karena kakinya tak mampu menopang kuatnya gelombang tanah tersebut. Teriakan takbir dari penjuru lain juga terdengar. Seluruh lafal puja puji pada yang Maha Kuasa meminta perlindungan diteriakkan dari seluruh penjuru arah. Aku tidak ingat seberapa lama guncangan itu terasa, namun berdasarkan memoriku moment itu terasa lamaaaaa sekaliii.
Perlahan gelombang tanah itu mereda, namun langit berubah menjadi abu-abu. Gelap. Tetangga sekitar rumah ada yang berusaha berlarian keluar rumah mereka, dan ada yang berteriak meminta tolong karena terjebak furniture rumah mereka yang berjatuhan. Aku ingat percakapan kecil antara Ibu dan Ayah ketika itu kurang lebih:
"Apa ini kiamat ya, Yah?" tanya Ibu pada Ayah sambil mengawasi sekitar, Aku dengar degup jantungnya memburu sembari memeluk tubuh pendekku.
"Sepertinya bukan, karena ini bukan Hari Jumat" jawab Ayah sekenanya.
Tangan Kakak gemetar, sambil terus menggenggam erat lengan Ayah.
Berita simpang siyur mulai terdengar, ada yang berkata bahwa Tsunami sudah sampai Desa Pundong (sekitar 15 km dari rumahku), ada juga yang beteriak bahwa Gunung Merapi meletus (karena memang status gunung aktif itu sudah mencapai siaga ketika itu). Kami yang kala itu kalut masih mencoba untuk mencerna. Hingga akhirnya ada titik cerah dari tetangga kami yang berprofesi tentara mendapat sinyal berita dari radio amatirnya bahwa katanya ini bukan karena letusan gunung namun gempa tektonik yang berlokasi di daratan dan tidak berpotensi tsunami.
Ada beberapa kosakata baru yang didapatkan Nina di pagi hari itu: Gempa dan Tsunami. Aku memperhatikan keadaan sekitar, ketika seluruh tetangga berhamburan dengan luka di badan mereka, berteriak kesakitan dan meminta tolong, bahkan ada yang memilih diam karena tidak tahu harus berbuat apa. Alhamdulillah, rumah kami aman, tidak ada bagian yang rubuh begitu juga rumah-rumah di sekitar. Syukurlah. Namun gelapnya langit yang ternyata berasal dari reruntuhan bangunan di sekitar perumahan kami. Kala itu, belum terpikirkan apa yang terjadi di luar sana, namun Ayah dan Ibu berpikir cepat untuk segera pergi menjauh dari Jogja.
Sejenak kemudian, perhatianku tertuju pada akuarium ikan hiasku di teras rumah.. Ikan yang aku koleksi dan aku rawat sepenuh hati, seluruhnya tergeletak di lantai... Ikan oscar, Ikan mas koki, ikan koi kecil, dan lain-lain yang tidak kuingat... tangisku pecah dan hendak berlari masukk ke teras.. namun, tangan ibu dengan cepat menahanku. Tidak aman, katanya kaki ku bisa luka terkena pecahan kaca. Aku yang kala itu berusia 5 tahun menangis dengan kencangnya, hingga tetanggaku mengira bahwa ada bagian tubuhku yang terluka. Dengan tenang ibu menyampaikan "Nina tidak papa, Dia menangisi akuarium nya yang pecah dan ikan nya yang mati semua" tetanggaku pun lega dan sejak saat itu, aku membenci kata "Gempa".
Beberapa jam kemudian, setelah memastikan keadaan aman tiba-tiba ada berita bahwa akan terjadi gempa susulan dengan skala yang lebih besar. Tanpa pikir panjang, Kami semua langsung masuk ke mobil dan bertolak ke arah Sukoharjo. Kondisi jalanan retak, sinyal telpon mati, listrik juga mendadak padam. Ketika mobil berhasil keluar dari gerbang perumahan aku melihat desa di luar perumahanku rata dengan tanah, tak ada bangunan yang utuh berdiri, hanya 1 rumah besar dan 1 masjid yang menjadi rujukan pengungsian orang-orang dan layak untuk disinggahi. Tangisan.. Luka... Teriakan... terdengar kencang di sepanjang jalan.
Mobil kami dibuka oleh orang-orang yang kebetulan mengenal Ayahku sambil berteriak lirih "Pak Joko... kami nderek (ikut).. terserah mau dimana kemana asalkan keluar Jogja" Ayah yang merasa iba langsung membuka pintu mobil dan gerudukan orang masuk kedalam mobilku mungkin ada 10 orang. Mereka ternyata memutuskan hanya minta diantarkan ke Terminal Giwangan untuk kemudian melanjutkan perjalanan sendiri.
Kondisi jalanan chaos, ambulan dan truk tentara berlalu lalang, klakson dari kendaraan dengan pengemudi yang panik juga turut serta memperkalut suasana. Aku yang awalnya duduk di kursi belakang penumpang beralih duduk di kursi depan, dipangku Ibu. Seingatku, Aku juga panik kala itu, karena aku melihat banyak sekali manusia tergeletak di trotoar bersimbah darah ntah hidup ataupun tidak. Berulang kali ibu berkata padaku "Adek pegangan Ibu, gausa dilihat yang di luar, inshaAllah kita baik-baik saja" ucapnya sambil terus mewiridkan dzikir disepanjang jalan.
Mobil terus melaju dengan padat merayap karena macet, hingga tiba-tiba Handphone nokia ibu berdering pertanda signal sudah mulai masuk (mungkin ini sudah sampai Klaten). Banyak telpon masuk untuk menanyakan kabar kami, dan Ibu mengabarkan bahwa kami semua baik-baik saja dan sedang perjalanan ke Sukoharjo... Semakin mobil ke timur menjauhi Jogja kondisi jalanan semakin membaik.. Hingga akhirnya kami sampai di rumah eyang di Sukoharjo... terlihat Nenek berlari menghambur menyambut kami di depan rumah sambil tetangga yang lain meneriakki seolah kami sudah berhasil selamat dari medan perang "Joko (nama ayahku) mulih Mbokdee, Jokoo mulihhh wis tekan mobil eee (Jokoo pulang Budhee, mobilnya sudah sampai) " begitu kalimat seruannya seingatku, kemudian Nenek dan Mbah Kakung keluar rumah memeluk kami dengan lega dan penuh rasa syukur.
Sekiranya, ingatan mengenai kejadian gempaku terputus sampai disitu. Selebihnya, hanya seperti cuplikan potongan scene film yang tak kuingat betul detailnya. Maklum kala itu usiaku tak lebih dari 5 tahun... Kejadian besar dalam hidupku terekam jelas dalam ingatan, Aku merasa diberikan kesempatan untuk hidup kembali oleh Allah untuk yang kedua kalinya.. Cukup membuat trauma hingga sekarang, bahkan adanya getaran dari truk yang lewat saja cukup membuatku terkejut..
Seruan takbir kemenangan, begitu juga takbir untuk mengingat ke-Esa-an Nya bahwa sebaik-baik penolong adalah pertolongan Allah SWT. Allahuakbar.. Allahuakbar... Allahuakbar..
Maha Besar Allah atas segala nikmat yang ada di Bumi dan seisinya...

Komentar
Posting Komentar